Rabu, 23 November 2016

Kata Kata Mutiara Cinta Menyentuh Hati


Kumpulan Kata - Kata Kata Cinta Menyentuh Hati | Kata Galau Romantis | Kata Mutiara Cinta, pada kesempatan kali ini admin akan memberikan suatu informasi buat anda sekalian yang sedang mencari artikel tentang Kata Kata Mutiara Menyentuh Hati dan Perasaan, nah berbicara soal cinta kita tentu pernah mengalami perasaan seneng, sedih, bahkan galau. ya begitulah kira-kira. Cinta memang membuat hidup kita menjadi lebih berwarna dan berjuta rasa. maka tak heran bila orang yang sedang jatuh cinta itu bawaannya selalu seneng.



Kata Kata Romantis Menyentuh Hati - sering kali Cinta dikaitkan dengan hal-hal yang berbau romantis, nah itu memang benar. pasti sobat semua yang sedang dalam hubungan pacaran tentu pernah melakukan hal ini seperti memberikan kata kata cinta, puisi kepada sang kekasih.

Kata Kata Cinta Menyentuh Hati
Kata Kata Cinta Menyentuh Hati

Nah, buat sobat yang ingin membuat pacarnya lebih sayang dan cinta kepada kita berikut akan admin berikan Kata Kata Cinta Menyentuh Hati :

Pernah kutemukan embun di matanya. Bukan lantaran sedih. Tulus itu membuatnya terharu.

Aku hanyalah kalender yang kehilangan angka.

Ia tahu tak ada yang abadi. Namun, ia masih belum tahu mengapa di kepalanya kenangan itu menjadi-jadi.

Aku dan secangkir kopi ini, mencari bayang dari balik puisi; pada jejak-jejak kepergianmu.

Pada arloji yang melingkari tangan kiriku; angka-angkanya menjelma airmata, menggenangi gersangnya cinta.

Kau ucapkan selamat tinggal malam itu. Tidak kuingat awalnya, tidak kulupa bagaimana sakitnya.

Jarak juga samar wajahmu, pada penantian; tabah ialah aku yang menanti detak jarum jam terhenti -- dipertemuan kita, nanti.

Malam seketika memerah, membentang dimatamu, aku dan kesedihanku; membiru lebam pada detak jam itu.

Sepanjang jalan itu kita bergandeng tangan, tapi hati kita berseberangan. Kelak kita akan bertemu lagi--di jalan kenangan.

Rindu, juga sunyi yang larut pada secangkir kopi ini, terjaga; menanti cinta yang aku rasa belum tiada.

Saat kau melangkahkan kaki pertamamu, dengan seribu langkahku mengejarmu. Di jalan itu; takdir tak merestui kita bertemu.

Sunyi, adalah cara lain untuk mencintaimu. Lewat puisi.

Kaki-kaki hujan begitu riuh dijatuhkan. Kita tahu payung tak lagi meneduhkan, selain bibir kita yang saling melepas ciuman.

Di kepalaku kamu adalah rembulan, satu wajah berjuta angan.

Sepanjang jalan itu, kita adalah dua tubuh yang berpapasan dibawah hujan--diam tanpa sapa, sibuk merapikan luka.

Maha benar perihnya luka. Semenjak kau Na, tak lagi ada.

Malam yang tabah, menampung segala luka; airmata kita -- di sajak ini.

Berenanglah, walau kau kehabisan perairan. Di kelelahannya, ada nikmat Tuhan yang melebihi daratan.

Atas nama cinta, hati yang luka, selalu pandai menyisakan perihnya.

Kertas kosong itu mulai kutulis, sebuah cerita yang mengiris. Sedangkan kau dan aku adalah tokoh yang hilang dengan tragis.

Setitik kerinduan telah membumbung tinggi, seiring detak arloji.

Di kepalaku, kamu adalah matahari; pusat rindu-rindu berotasi.

Jika pada akhirnya kamu memutuskan kepadaku tempatmu berpulang, semoga saja aku belum berpaling.

Secangkir kopi, segores sepi paling nyeri; dan kita tak pernah benar-benar bisa menyelesaikan rindu seorang diri.

Pada letupan ke-sekian, hatimu sedang melakukan perayaan. Kembang api menyala di pipimu bersama sebuah kecupan.

Kebebasan cinta bak kupu-kupu, membuat senang rindu, ketulusan bukan paksaan.

Sejauh-jauhn luka pergi, ia akan selalu kembali; pada airmata yang mencintai.

Perihal doa, kau tenang saja; ia hapal betul namamu.

Aku berbahagia; jatuhnya cintaku kepadamu, tak membuat dunia menjauhi aku.

Di matanya ada sumur yang dalam, aku tak bisa menimba apa-apa selain kerinduan.

Daun-daun hijau ingatanku kuning: musim merindukanmu tiba lagi.

Pada embun di ujung daun kutemukan harapan dari pagi, dan masa depan di senyumku sendiri.

Sebab cinta adalah rasa sakit yang abadi, maka Tuhan tak pernah absen menulis puisi.

Biarkan ku tampung buliran rindu itu, agar kelak kau tahu, jika kau pulang ke pangkuanku.

Aku melupakan satu hal: puisi ini lebih mencintaiku dari pada dirimu.

Semilir duka masih menyesakkan dada, saat ku lihat kau memilih pergi dengannya.

Cinta, biarlah rindu berkelana, mencari sesosok yang dicinta, hingga nyawa terbang bersamanya.

Rasa-rasa delima mengering di lidahku, bersamaan dengan air mataku; begitulah awal kau merayu.

Engkau diberi kelebihan meramal masa depan, tetapi engkau tidak diperbolehkan mendahului takdir Tuhan

Seindah apapun cinta, tapi tak bisa merawatnya. Cinta akan membuatmu murka, bila kau mempermainkannya.

Atas apapun kau tersenyum, semoga cinta tetaplah alasan pertama, meski di sana tidak ada kita.

Engkau ku cintai seperti kopi, meski pahitnya melebihi sakit hati, namun aroma manisnya melekat dinurani.

Senyummu puan, mengantarkan anak rinduku pulang, dari ujung penantian.

Aku menggambar kesedihanmu diselembar kertas, lalu mewarnainya dengan segenggam cemas.

Dari balik puisi ini; aku melihat kebahagiaanmu masih dijajah masa lalumu.

Seperti malam biasanya, kau memberiku satu tetes air mata; kali ini air matamu beku. Lebih dingin daripada pikiranku.

Di dinding pikiran namamu yang dituliskan, di ruang jiwa cintamu ku selimuti kasih sayang.

Dalam sejarah kita terkadang senyum adalah sandiwara belaka tuk menutupi bahwa air mata adalah realita sesungguhnya.

Malam begitu lapar hingga dilahap segala terang, kecuali cahaya di matamu yang kejora, di wajahmu yang purnama.

Ingin ku acak-acak kau di tengah guyuran hujan. Lalu kita menikmati kuyup itu dengan desah yang samar.

Sebab yang dekat denganmu melebihi urat nadi sudah Tuhan, biar aku hanya sedekat baju kesayangan yang kau kenakan.

Pelukan ialah adegan yang kita suka, saat hati saling bicara tapi bibir bungkam seribu bahasa.

Ditemani gemercik hujan, kuterbangkan angan; Disela tetes dedaunan ada rindu yang berjatuhan.

Kita tidak lagi memedulikan rona senja. Kulihat jingga ke pipimu berlarian, setelah kita larut dalam c*uman.

Di sisa-sisa cahaya senja; suara yang aku kenal muncul dari detak arlojiku, menerpa segala ingatan -- tentangmu.

kubiarkan kau merebah dalam ingatanku, hingga sejuta sajak rindu itu mampu ku tulis; untukmu.

Pastilah matamu adalah matahari, sebab setiap kamu melihat, aku selalu berkeringat.

Sedih ini anak ikan; mengalir mata air dari sungai dalam matamu, agar mereka dapat berenang.

Kopi ini ku buat spesial untukmu, karena resepnya berasal dari cinta dan rindu.

Kau membedakan fiksi dan irama, padahal ini dataran senja, tak pernah bisa kau terka.

Pagi ini, kau tawarkan hidangan yang sama yaitu airmata.

Pada sebagian malam yang bertema hujan, rindu begitu resah, dari temu yang tak kunjung menyatu.

Jika cinta itu peperangan; aku rela bertempur meski nyawa menjadi taruhan.

Layaknya segelintir embun diatas daun pandan. Cinta; merambat pelan, jatuh tertelan gersang, dan kupu-kupu berterbangan.

Tidak hanya kopi yang menghangatkan dada, barangkali senyumu lebih hangat dari bara.

Tangismu lepas pada untaian kata — tanpa ada yang mendegar, tanpa ada yang membaca. Sebab tangismu hanya pura-pura.

Aku selalu bukakan pintu untuk puisi. Mungkin saja dia sedang patah hati dan bercerita menemaniku minum kopi.

Langit dan mata kini tengah beradu; siapa yang lebih banyak mengeluarkan airnya.

Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi.

Sebab perpisahan menggariskan, antara pertemuan dan kenangan.

Yang kaukekalkan dalam ingatan, seringkali harus kautebus dengan kesunyian.

Setetes embun mengajariku, dinginnya sepi dari kehangatan cinta sebuah rindu.

Melihat senyummu, ialah cara luka menemui bahagia.

Mencintaimu, kebaikan yang tak boleh ditunda-tunda lagi.

Beri aku satu puisi tanpa perlu meratapi luka-lukanya.

Demikian informasi terbaru seputar Kata Kata Cinta Menyentuh Hati, semoga artikel diatas dapat bermanfaat buat anda sekalian, jadikan ini sebagai inspirasi dan motivasi serta jangan lewatkan juga artikel menarik lainnya mengenai :


Kata Kata Mutiara Cinta Menyentuh Hati Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Velin Caliandra